-
Sejenak malam mengiris sisa kelambu pelipur lelap
Kembalikan waktu dalam rentang sajak di tepian hari
Kini kuhidupi masa dalam satu pukul yang tersisa bagi pikulan hari
Sering kusesapkan mencari pengertian dalam jejak pikiran yang tak pernah tertinggal
Siasati sesat agar tak perlu baginya temukan jalan kembali, sesat itu terlalu menyenangkan hingga sampaikan ingin tak lagi temui jalan keluar
Menghirup udara malam, kemudian serasa menghidupi kembali satuan waktu yang telah lalu berlalu, pekan yang telah lama silam, hingga bulan tak mampu lagi menjemputnya
Hanya rindu-rindu mencecar dalam seluruh hawa yang menaungi, duka yang tersimpan, Lara yang menjangkiti, tanpa perih diiringi nanar yang tak bertuan
Lama-lama tersadari pula apa pesannya, ingin kembali itu sama dengan ketiadaan, meniadakan eksistensi dalam kurun waktu kekinian, menyangkal dalam acuan waktu yang tak kenal kata mundur, kuasa keringat, tanda segenggam kesia-sitaan masih tercengkram erat, tak ada lagi yang perlu dirindukan, saat-saat yang tak pernah mampu diingatkan, dalam malam sejenak aku mengadu,
Di sanalah sesat sesaat menuntun, menolak kembali ke jalannya, enggan mengakui kekalahannya
Hingga kini.